WhatsApp
betapramestiasia

Leaching Emas & Tembaga: Hemat Reagen dengan Data Real‑time dan Daur Ulang

  • beta-pramesti-asia
  • industri-gold-dan-copper-mining
  • proses-leaching

Leaching Emas & Tembaga: Hemat Reagen dengan Data Real‑time dan Daur Ulang

Pabrik leaching emas dan tembaga bisa memangkas 5–20% konsumsi reagen hanya dengan menjaga konsentrasi “pas” via analyzer online dan kontrol tertutup—seraya mendaur ulang reagen dari larutan barren.

Industri: Gold_&_Copper_Mining | Proses: Leaching

Cyanide untuk emas dan asam sulfat untuk tembaga adalah dua reagen paling mahal sekaligus berisiko di hydrometallurgy. Targetnya sederhana: cukupkan dosis untuk mencapai recovery yang ditetapkan—tidak kurang, tidak lebih. Tetapi di lapangan, manual control kerap memicu fluktuasi liar: sebuah studi CIL (carbon-in-leach, proses adsorpsi emas ke karbon) menarget 275 ppm (part per million, mg/L) NaCN, namun realisasi berayun dari 141 hingga 367 ppm (nyaris ±50% dari setpoint) [scirp.org]—yang artinya uang menguap bersama reagen.

Berita baiknya: plant yang mengikat pengukuran online ke sistem kontrol tertutup (DCS/PLC) mampu menurunkan konsumsi, menstabilkan tailings, dan menekan biaya detox. Simulasi di Cile, misalnya, memangkas pemakaian NaCN dari ≈2,24 kg/t menjadi ≈2,04 kg/t—hemat ~9%—dengan disiplin kendali dan strategi blending [mdpi.com].

Kebutuhan reagen dan angka patokan

Untuk emas, larutan leaching CIL/CIP (carbon-in-pulp) lazimnya mengandung 500–2000 ppm NaCN (sering disebut “active” CN) [azomining.com] dan referensi paten juga menyebut “≈1000 ppm” [patents.google.com]. Secara massa, konsumsi tipikal berada pada kisaran 1–3 kg NaCN per ton bijih, tetapi variatif (≈0,5–4 kg/t) sesuai mineralogi; simulasi di Cile mencatat ≈2,04 kg/t di skenario terkendali vs ≈2,24 kg/t tanpa kendali [mdpi.com].

Untuk tembaga (heap atau tank leaching), konsumsi H₂SO₄ lazimnya puluhan hingga ratusan kg/t—sangat bergantung kandungan karbonat dan target ekstraksi. Uji laboratorium pada bijih Cu oksida/sulfida kadar rendah menunjukkan kebutuhan asam 93–107 kg/t pada pH 1,0 (≈60% recovery Cu) versus 18–54 kg/t pada pH lebih tinggi (dengan recovery lebih rendah) [researchgate.net] [researchgate.net]. Banyak operasi praktis melaporkan 20–100 kg/t.

Variabel proses penggerak konsumsi

Mineralogi bijih adalah penentu utama. Gangue karbonat (kalsit, magnesit) dan mineral besi menghabiskan asam atau cyanide tanpa menambah Cu/Au. Pada emas, keberadaan pirit atau kalkopirit bisa melonjakkan konsumsi CN dan bahkan memicu presipitasi Au [rudmet.ru]. Pendekatan geometalurgi—mencampur (blend) umpan kaya/kurang Cu—terbukti menstabilkan kebutuhan CN [mdpi.com]. Pra‑perlakuan (oksidasi) bijih refraktori—patent menunjukkan mengoksidasi ~10% sulfida dapat memangkas CN ≈2/3—juga efektif.

Ukuran partikel dan densitas pulp memengaruhi kinetika—penggilingan lebih halus/agitasi lebih tinggi mempercepat pelindian, namun bisa menaikkan kebutuhan reagen per satuan waktu. Parameter leach: pH lebih rendah (lebih banyak asam) biasanya meningkatkan pelarutan Cu tetapi memicu acid bleed. Contoh: menaikkan pH larutan dari 1,0 ke 1,2 menurunkan konsumsi asam ~15% (dari 107 menjadi 93 kg/t) dengan penurunan recovery yang moderat [researchgate.net]. Oksidan juga krusial: pasokan O₂/udara yang kurang, walau CN cukup, memperlambat leach dan “mengunci” CN sebagai kompleks (mis. ferrocyanide).

Regulasi lingkungan dan alasan ekonomis

Regulator mendorong efisiensi. Di Indonesia, sianida bebas di tailings wajib ≤0,2 mg/L (KepMen LH No. 202/2004) [studylib.net]. International Cyanide Management Code menetapkan total CN tailings <50 mg/L [azomining.com]. Untuk kebocoran asam di tembaga, standar air limbah Indonesia ketat (mis. Cu terlarut <2 mg/L). Menghindari overdosing membantu memenuhi batas ini tanpa biaya detox/penetralan berlebih.

Pemantauan real‑time dan analis online

Analis cyanide online (free/WAD/TCN; WAD = weak‑acid dissociable, TCN = total cyanide) berbasis difusi gas dan amperometri memberi bacaan mg/L dalam slurry atau tailings. Selama >15 tahun, on‑line WAD‑CN digunakan secara komersial untuk “optimise cyanidation”—memberi “cyanide savings” dan tailings yang lebih stabil [onemine.org]. Sebuah plant di Australia dengan WAD‑1000 melaporkan alat ini “ensures code compliance, reduces cyanide destruction costs, and provides a continuous record of CNWAD in tailings” [onemine.org]. Akurasinya mendekati lab dalam hitungan menit—dibanding jam pada uji laboratorium grab [azomining.com].

Sensor pH dan Eh/ORP (oxidation‑reduction potential) bekerja kontinyu untuk menjaga pH ≈10,5 pada sianidasi emas dan pH ≈2 pada leach tembaga; ORP sekitar +600 mV lazim di cyanidation dan dapat dipakai untuk mengatur O₂ atau CN. Pada tembaga, sensor O₂ terlarut atau ORP memastikan oksidan cukup untuk melarutkan sulfida. Meski praktik ini tidak dibahas eksplisit oleh sumber tersitasi, ini adalah praktik industri standar.

Pada sisi kadar logam terlarut, on‑stream analyzer (mis. XRF) mengukur Cu atau Au di larutan. Untuk heap leach tembaga, AllScan dari RTI mengukur kadar Cu leachate secara real‑time; studi kasus menyebut “immediate adjustments based on real-time data enhanced overall efficiency of leach operations” [realtimeinstruments.com]. Di pulp emas, analyzer proses seperti Metrohm 2060 TI melacak Au dan CN sekaligus, mengurangi waktu, tenaga, dan error [metrohm.com].

Kontrol tertutup dan hasil operasional

Output analyzer diumpankan ke DCS/PLC (distributed control system/programmable logic controller) untuk feedback control. Contohnya, bacaan CN kontinyu langsung mengatur pompa dosing agar ppm tetap on‑setpoint—bukan suntikan manual berbasis intuisi. Studi [scirp.org] menyarankan pengukuran otomatis di tiap tangki dan reprogram loop kendali untuk mengeliminasi swing ±10% dari setpoint; data real‑time juga membuka opsi feed‑forward saat ore emas tinggi‑Cu (dengan demand CN tinggi) memasuki sirkuit.

Kotzen (2007) menegaskan kontrol online bukan hanya memangkas cyanide, tapi juga meningkatkan recovery [onemine.org]. Ia juga mencatat biaya cyanide destruction (detox) seorde dengan biaya sianidasi itu sendiri—artinya menekan CN bebas punya payback tinggi [onemine.org]. Di banyak plant, kontrol online menurunkan WAD‑CN tailings hingga memenuhi ambang 50 mg/L (ICMI) atau 0,2 mg/L (Indonesia) [studylib.net] [azomining.com]. Sebuah tambang di Cile menurunkan free‑CN tailings dari sesekali >0,5 mg/L menjadi rata‑rata <0,1 mg/L dengan kontrol CN ketat [studylib.net]; pola serupa dilaporkan di Veladero ketika pemantauan online diterapkan [azomining.com]. Secara praktis, stabilisasi ini memangkas penambahan CN ~10–20% dan banyak site menyebut “savings” 5–20% pasca otomasi (kasus spesifik).

Untuk tembaga, kendali menargetkan pH atau rasio asam:logam. Dengan assay Cu real‑time, operator menghindari over‑acidification. Pada kolom heap leach, penyesuaian debit irigasi dan kekuatan asam mampu hampir melipatgandakan produktivitas asam—menurunkan H₂SO₄ dari 54 ke 18 kg/t pada salah satu kasus (recovery memang menurun) [researchgate.net]. Pompa injeksi asam diafragma modern memeter asam secara presisi sesuai aliran—mengurangi risiko tumpahan [sciencedirect.com]. Data kadar dan kelembapan real‑time—seperti contoh AllScan [realtimeinstruments.com]—memungkinkan penjadwalan irigasi yang lebih tajam. Singkatnya, feedback control memastikan reagen ditambahkan minimal untuk recovery optimal dan batas regulasi tetap terjaga.

Daur ulang reagen dari larutan barren

Sisa cyanide di barren (post‑leach) kerap signifikan—baik sebagai free CN maupun kompleks logam. Opsi pemulihan:

  • SART/AVR (sulfidization‑acidification‑recycling‑thickening / acidification‑volatilization‑recovery): mengendapkan Cu sebagai CuS sambil melepaskan cyanide yang terikat, memungkinkan hingga ~90% recovery CN dan menghasilkan Cu jual [researchgate.net]—Estay dkk. melaporkan “SART recovery: 90%” [researchgate.net]. Proses ini “membantu menghasilkan Cu sebagai produk samping sianidasi sekaligus memulihkan cyanide” [rudmet.ru]. Implementasi di site seperti Maricunga dan Boddington menunjukkan perlunya NaCN baru turun tajam; sebuah studi ketika 50% larutan diproses SART meningkatkan NPV proyek secara signifikan [researchgate.net].
  • Ion exchange/adsorpsi: resin basa kuat atau karbon aktif menangkap kompleks CN dari barren untuk kemudian dielusi dan dipakai ulang; studi (Davis dkk., 1999) menegaskan Cu dan CN bisa dipulihkan [rudmet.ru]. Secara praktik, resin (mis. SIR‑300) telah dipakai untuk polishing barren dengan ~80–95% recovery CN pada pilot.
  • Distilasi (HCN recovery): sebagian plant mengasami barren untuk menghasilkan HCN gas yang kemudian dineutralisasi kembali menjadi NaCN; proses proprietari (Carobase, Vie‑Active, Caro’s Acid dengan H₂O₂) dilaporkan dapat mereklamasi ≈90% cyanide dengan investasi modal. Catatan Metso: beban detox turun “dengan mendaur ulang larutan yang mengandung cyanide” [metso.com].

Pada tembaga, pemulihan H₂SO₄ dari barren lebih jarang tetapi mungkin secara teknologi. Secara prinsip, reverse osmosis (RO) dan nanofiltration (NF) dapat memekatkan asam untuk dipakai ulang. Di praktik sehari‑hari, barren biasanya disirkulasikan kembali ke pad atau dipakai sebagai wash water, sehingga sisa asam kembali masuk sirkuit; asam juga “diwariskan” ke lift heap berikutnya saat repad. Beberapa site mengendapkan gipsum/besi dengan kapur untuk memulihkan sebagian asam—mis. desulfurisasi barren menghasilkan CO₂ dan H₂O, menyisakan asam. Meski tanpa angka kuantitatif dari sumber, Metso mengimplikasikan reuse apa pun akan menekan kebutuhan reagen [metso.com]. Intinya: maksimalkan reuse aliran hysolution/CN dan minimalkan pembuangan.

Secara ekonomi, porsi larutan yang diproses SART (mis. 30%) bisa menaikkan NPV proyek hingga puluhan juta USD; analisis Estay dkk. menunjukkan kurva NPV yang curam seiring kenaikan persentase SART [researchgate.net]. Gabungan tight control + recycling dapat menurunkan konsumsi bersih cyanide atau asam sekitar ~20–50% dibanding operation tanpa kendali, menurut studi industri dan simulasi.

Membran dan resin sebagai enabler teknis

Karena RO/NF disebut sebagai opsi pemekatan asam, implementasi industri lazim menggunakan paket membran. Sistem RO/NF/UF (ultrafiltration) siap industri seperti membrane systems dapat diintegrasikan di loop reuse. Untuk kebutuhan selektivitas dan tekanan lebih rendah pada aplikasi tertentu, nano‑filtration relevan saat hendak mengurangi “hardness” seraya mempertahankan efisiensi. Pada air proses dengan TDS tinggi, paket RO air payau kapasitas TDS maksimum 10.000 mg/L seperti brackish‑water RO dapat menjadi opsi saat mengelola recycle stream.

Pada jalur pemulihan cyanide via penjerapan, pemilihan dan operasi resin menjadi krusial. Portofolio sistem dan material resin kation/anion tersedia secara komersial, seperti Ion‑Exchange, untuk menjalankan siklus adsorpsi–desorpsi terhadap kompleks CN sesuai rekomendasi proses.

Rangkaian tindakan terukur

  • Geometalurgi & scheduling: kelompokkan ore berdasarkan kebutuhan cyanide/asam dan jalankan blend yang konsisten [mdpi.com].
  • Instrumen online: pasang CN, pH, ORP, dan analyzer logam real‑time pada aliran leach dan tail; kalibrasi rutin terhadap standar laboratorium [metrohm.com] [azomining.com], dan hubungkan ke DCS untuk closed‑loop control.
  • Automasi dosing: program pompa untuk mempertahankan target konsentrasi (ppm atau g/L), bukan laju alir tetap. Pada emas, atur feed CN oleh bacaan CN di tangki; pada tembaga, kaitkan laju asam ke debit dan target pH atau deviasi Cu terlarut dari setpoint [scirp.org] [researchgate.net]. Perangkat metering yang presisi seperti dosing pump membantu menahan variabilitas.
  • Pelacakan data operasi: log semua bacaan online dan penambahan reagen; analisis tren (mis. SPC) untuk deteksi dini drift/malfungsi. Program pemantauan sianida “Bulgarian” di Veladero mengunggah data ke basis data cloud secara dinamis [azomining.com].
  • Kepatuhan: gunakan pemantauan untuk menegakkan batas tailings (Indonesia free‑CN <0,2 mg/L) [studylib.net]; dokumentasikan melalui rekaman online untuk memenuhi regulator sekaligus mengidentifikasi overdosing.
  • Recycle loop: adopsi SART/SX/EW sesuai kelayakan. Kuantifikasi cyanide/asam yang dipulihkan dan sesuaikan anggaran reagen; misalnya bila SART memulihkan ~90% CN yang terikat Cu [researchgate.net], rencanakan pengurangan NaCN segaris. Pastikan tahap detox melewati CN bebas untuk reuse alih‑alih dibuang sebagai sludge.

Dampak finansial dan kepatuhan

Program terukur seperti di atas secara tipikal memberikan pengurangan konsumsi reagen 5–20%, tailings yang lebih ketat, dan penghematan biaya yang kurang lebih proporsional dengan harga reagen. Di plant emas, penggunaan cyanide per ton bijih/oz dapat dipangkas beberapa persepuluh kg/t—menghemat sekitar US$0,1–0,5 per ton—yang bergulir menjadi jutaan dolar per tahun. Pada operasi leach tembaga, bahkan 10% penghematan asam berarti puluhan dolar per ton tembaga yang diproduksi, plus biaya penetralan yang lebih rendah. Dikombinasikan dengan manfaat lingkungan (residu CN/asam lebih rendah di efluen), business case‑nya kuat.

Sumber dan rujukan utama: scirp.org mdpi.com onemine.org metrohm.com azomining.com researchgate.net metso.com researchgate.net researchgate.net studylib.net realtimeinstruments.com patents.google.com sciencedirect.com.